Nabi Muhammad saw. telah mengirim Dihyah bin Khalifah Al-Kalby sebagai utusan kepada Kaisar Heraklius. Dengan kecerdasan dan keluasan ilmunya Kaisar bisa mengetahui kebenaran kenabian Muhammad saw. Bahkan Kaisar menyatakan: "Dia (Nabi Muhammad saw.) kelak akan mampu menguasai wilayah yang dipijak oleh kedua kakiku ini." Sedang saat itu Kaisar sedang dalam perjalanan menuju Baitul Maqdis.
Berikut beberapa ciri kenabian yang disebutkan oleh Kaisar Heraklius dalam tanya jawabnya dengan Abu Sufyan.
Nasab
Para Rasul diutus dalam keadaan memiliki nasab-nasab yang baik pada kaumnya.
Ajaran baru
Tidak ada seorangpun sebelum dia yang mengatakan perkataan seperti itu (yakni ajaran Islam). Seandainya telah ada yang mengatakan sebelumnya, maka dia hanyalah orang yang meniru-niru perkataan yang pernah dikatakanoleh orang sebelumnya.
Perintah rasul
Rasul memerintahkan untuk beribadah kepada Allah, tidak melakukan kesyirikan kepada-Nya dengan sesuatupun, serta melarang untuk beribadah kepada para berhala. Rasul memerintahkan untuk mengerjakan shalat, membayar zakat, dan menjaga kehormatan diri.
Bukan keturunan raja
Tidak ada dari ayah dan kakek-kakeknya yang menjadi raja. Seandainya ada tentu dia hanya orang yang menginginkan tahta dari ayah dan kakeknya.
Bukan pendusta
Orang yang tidak meninggalkan tindakan dusta atas nama manusia, ia akan berdusta atas nama Allah.
Bukan penipu
Para rasul tidak pernah mneipu.
Pengikut
Pengikut para rasul adalah orang-orang lemah dan jumlah mereka terus bertambah. Tidak ada di antara pengikutnya yang murtad karena kesal dengan agamanya. Demikianlah keimanan ketika telah bercampur sifat kelapangannya dengan hati.
Kaisar Heraklius telah mengetahui tentang Nabi Muhammad saw. dan membenarkan kenabian beliau dengan pengetahuan yang lengkap. Akan tetapi ia dikalahkan rasa cintanya atas tahta kerajaan, sehingga ia tidak menyatakan keislamannya. Ia mengetahui dosa dirinya dan dosa dari rakyatnya sebagaimana dijelaskan Rasulullah saw.
Kaisar lalu memuliakan Dihyah bin Khalifah Al-Kalby dengan menghadiahkan sejumlah harta dan pakaian.
Sumber : Asy-Syaikh Shofiyyur-Rohman al-Mubarokfury, "Siroh Nabawiyah", 2006
Saturday, June 30, 2007
Wednesday, May 16, 2007
Tentang Tauhid
Dewasa ini saya perhatikan banyak orang yang abai terhadap masalah aqidah. Sebagian terpaku pada masalah fiqih. Mereka memaknai rukun Islam yang pertama sebagai "membaca dua kalimat syahadat". Definisi ini sangat berbahaya karena mereka sebatas (atau membatasi diri sekedar) membaca. Sedangkan tauhid sebagai inti dari aqidah justru sering terlewatkan.
Tauhid adalah pondasi bagi bangunan keimanan di atasnya. Bila kokoh pondasinya niscaya kokoh pula bangunannya. Majalah Asy Syariah Vol. III/No. 30/1428 H/2007 ini mengupas tauhid secara menyeluruh mencakup empat macam tauhid beserta penyimpangan-penyimpangannya. Empat macam tauhid adalah Tauhid Uluhiyyah, Rububiyyah dan Asma' wash Shifat serta mencintai Rasulullah.

Di sini dibahas pula tentang thaghut dan kewajiban mengingkarinya lengkap beserta dalil-dalilnya. Thaghut adalah antagonis bagi tauhid yang protagonis. Dengan mengetahui posisi thoghut akan semakin jelas dimana kedudukan tauhid.
Terdapat pula 'Sakinah', Lembar untuk Wanita dan Keluarga. Bagian ini biasanya membahas berbagai permasalahan wanita. Topik yang dibahas kali ini di antaranya adalah Mencintai Rasulullah, Hak-hak Wanita dalam Islam, dan masalah bahaya lisan.

Satu masalah dalam majalah ini adalah keterbatasan halaman. Sehingga tidak mungkin membicarakan tauhid secara lengkap dan rinci di dalam majalah yang hanya setebal 96 halaman ini. Namun sebagai dasar pengetahuan kita sudah mendapat dasar yang cukup kuat sebelum melengkapinya dengan kitab-kitab tauhid dengan pembahasan yang lebih rinci.
Mengingat sedemikian penting masalah yang dibahas kali ini menjadikan majalah edisi ini masuk dalam kategori wajib dimiliki (untuk dibaca dan dipahami lalu dihafalkan dan diamalkan). Dengan bandrol hanya Rp 8.000,- (Jawa) dan Rp 9.500,- (luar Jawa) semestinya tidak ada alasan bagi kaum muslimin untuk tidak memiliki majalah ini.
Diterbitkan oleh : Penerbit Oase Media di bawah Yayasan Asy Syariah
Penasehat : Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed dan Al-Ustadz Luqman Ba'abduh
Tauhid adalah pondasi bagi bangunan keimanan di atasnya. Bila kokoh pondasinya niscaya kokoh pula bangunannya. Majalah Asy Syariah Vol. III/No. 30/1428 H/2007 ini mengupas tauhid secara menyeluruh mencakup empat macam tauhid beserta penyimpangan-penyimpangannya. Empat macam tauhid adalah Tauhid Uluhiyyah, Rububiyyah dan Asma' wash Shifat serta mencintai Rasulullah.

Di sini dibahas pula tentang thaghut dan kewajiban mengingkarinya lengkap beserta dalil-dalilnya. Thaghut adalah antagonis bagi tauhid yang protagonis. Dengan mengetahui posisi thoghut akan semakin jelas dimana kedudukan tauhid.
Terdapat pula 'Sakinah', Lembar untuk Wanita dan Keluarga. Bagian ini biasanya membahas berbagai permasalahan wanita. Topik yang dibahas kali ini di antaranya adalah Mencintai Rasulullah, Hak-hak Wanita dalam Islam, dan masalah bahaya lisan.

Satu masalah dalam majalah ini adalah keterbatasan halaman. Sehingga tidak mungkin membicarakan tauhid secara lengkap dan rinci di dalam majalah yang hanya setebal 96 halaman ini. Namun sebagai dasar pengetahuan kita sudah mendapat dasar yang cukup kuat sebelum melengkapinya dengan kitab-kitab tauhid dengan pembahasan yang lebih rinci.
Mengingat sedemikian penting masalah yang dibahas kali ini menjadikan majalah edisi ini masuk dalam kategori wajib dimiliki (untuk dibaca dan dipahami lalu dihafalkan dan diamalkan). Dengan bandrol hanya Rp 8.000,- (Jawa) dan Rp 9.500,- (luar Jawa) semestinya tidak ada alasan bagi kaum muslimin untuk tidak memiliki majalah ini.
Diterbitkan oleh : Penerbit Oase Media di bawah Yayasan Asy Syariah
Penasehat : Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed dan Al-Ustadz Luqman Ba'abduh
Saturday, April 14, 2007
TAUHID KEEMPAT
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah ta'ala berkata :
Pembagian tauhid yang tiga yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma' dan Sifat diambil dari penelitian. Karena para ulama tatkala meneliti apa yang dibawa oleh nash-nash dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya saw. tampaklah bagi mereka pembagian tauhid yang tiga ini. Sebagian mereka menambahkan jenis yang keempat yaitu Tauhid Mutaba'ah, dan semua ini berdasarkan hasil penelitian.
Tauhid Muataba'ah yaitu kita menjadikan Rasulullah saw. satu-satunya ikutan, maka kita tidak mengikuti kecuali beliau dengan sebenar-benarnya.
Berkata pensyarah Al 'Aqidah Ath Thohawiyyah dengan tahqiq Asy Syaikh Al-Albani rahimahullah :
"Merupakan perkara yang wajib adalah kesempurnaan ketundukan kepada Rasul saw. patuh terhadap perintahnya dan menyambut beritanya dengan penerimaan dan pembenaran, tanpa menentangnya dengan khayalan bathil yang kita sebut ma'quul (sesuatu yang dianggap masuk akal), atau kita interpretasikan sebagai syubhat atau keraguan, atau kita lebih mendahulukan pendapat orang-orang serta sampah pemikiran mereka daripada berita beliau. Kita tauhidkan beliau dengan menjadikan beliau sebagai hakim, menerima, tunduk, dan patuh (kepada hukum beliau) sebagaimana kita mentauhidkan Sang Pengutus (Allah) dengan ibadah, ketundukan, kerendahan, inabah dan tawakal. Keduanya adalah tauhid. Tiada keselamatan bagi seorang hamba dari adzab Allah kecuali dengan keduanya, yaitu Tauhidul Mursil (Sang Pengutus) dan Tauhid Mutaba'ah Rasul."
Sungguh jenis tauhid yang ini, yaitu mutaba'ah kepada Rasul, telah menggelisahkan ahlul bid'ah dan golongan dengan segala bentuk dan jenis mereka. Tauhid ini tidak disenangi kecuali oleh ahlul haq yaitu Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dan mereka itulah golongan Allah yang beruntung, Insya Allah. Adapun ahlul bid'ah dan orang-orang yang bergolong-golong di atas kebatilan maka sungguh tauhid ini telah menggoncangkan dan mencemaskan mereka dengan dahsyat. Karena tauhid ini akan membuat mereka kehilangan pengikut dan mereka tidak bisa berhukum sesuka hati untuk memerangi manusia dan orang-orang yang mereka kuasai. Tauhid ini membuat manusia tidak akan mengikuti kecuali Rasulullah saw. Adapun selain Rasulullah saw. maka tidak akan diikuti kecuali pada perkara-perkara yang mencocoki Kitab dan Sunnah. Tidak ada ketaatan yang mutlak tanpa syarat dan ikatan apapun kecuali bagi Allah dan RasulNya saw. Adapun selain itu adalah ketaatan yang terikat di dalam batasan Kitab dan Sunnah.
Bahan bacaan :
Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab al-Wushobiy, al-Qoulul Mufid, 2005

Judul Asli : Al-Qoulul Mufid fii Adillatit Tauhiid / Penulis : Asy Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab bin "Ali Al-Yamani Al-Wushobi Al-'Abdali / Penerbit : Maktabatul Irsyad, cetakan ketujuh tahun 1422H - 2001M, Shan'a / Edisi Indonesia : Al-Qoulul Mufid, Penjelasan tentang Tauhid / Penerjemah : Ummu Luqman Salma bintu Ngadino As Salafiyyah / Muroja'ah : Abu Sa'id Hamzah bin Halil As Salafi / Cetakan : Pertama, Agustus 2005 / Penerbit : Darul 'Ilmi, Perum Sukoharjo Indah Blok B-19, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta
Pembagian tauhid yang tiga yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma' dan Sifat diambil dari penelitian. Karena para ulama tatkala meneliti apa yang dibawa oleh nash-nash dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya saw. tampaklah bagi mereka pembagian tauhid yang tiga ini. Sebagian mereka menambahkan jenis yang keempat yaitu Tauhid Mutaba'ah, dan semua ini berdasarkan hasil penelitian.
Tauhid Muataba'ah yaitu kita menjadikan Rasulullah saw. satu-satunya ikutan, maka kita tidak mengikuti kecuali beliau dengan sebenar-benarnya.
"Katakanlah : Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imron : 31)
"Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya." (Al Hasyr : 7)
"Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas petunjuk baginya, dan dia mengikuti jalan selain jalannya orang-orang yang beriman, maka Kami palingkan dia kepada apa yang dia berpaling itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam. dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali." (An Nisaa' : 115)
Berkata pensyarah Al 'Aqidah Ath Thohawiyyah dengan tahqiq Asy Syaikh Al-Albani rahimahullah :
"Merupakan perkara yang wajib adalah kesempurnaan ketundukan kepada Rasul saw. patuh terhadap perintahnya dan menyambut beritanya dengan penerimaan dan pembenaran, tanpa menentangnya dengan khayalan bathil yang kita sebut ma'quul (sesuatu yang dianggap masuk akal), atau kita interpretasikan sebagai syubhat atau keraguan, atau kita lebih mendahulukan pendapat orang-orang serta sampah pemikiran mereka daripada berita beliau. Kita tauhidkan beliau dengan menjadikan beliau sebagai hakim, menerima, tunduk, dan patuh (kepada hukum beliau) sebagaimana kita mentauhidkan Sang Pengutus (Allah) dengan ibadah, ketundukan, kerendahan, inabah dan tawakal. Keduanya adalah tauhid. Tiada keselamatan bagi seorang hamba dari adzab Allah kecuali dengan keduanya, yaitu Tauhidul Mursil (Sang Pengutus) dan Tauhid Mutaba'ah Rasul."
Sungguh jenis tauhid yang ini, yaitu mutaba'ah kepada Rasul, telah menggelisahkan ahlul bid'ah dan golongan dengan segala bentuk dan jenis mereka. Tauhid ini tidak disenangi kecuali oleh ahlul haq yaitu Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dan mereka itulah golongan Allah yang beruntung, Insya Allah. Adapun ahlul bid'ah dan orang-orang yang bergolong-golong di atas kebatilan maka sungguh tauhid ini telah menggoncangkan dan mencemaskan mereka dengan dahsyat. Karena tauhid ini akan membuat mereka kehilangan pengikut dan mereka tidak bisa berhukum sesuka hati untuk memerangi manusia dan orang-orang yang mereka kuasai. Tauhid ini membuat manusia tidak akan mengikuti kecuali Rasulullah saw. Adapun selain Rasulullah saw. maka tidak akan diikuti kecuali pada perkara-perkara yang mencocoki Kitab dan Sunnah. Tidak ada ketaatan yang mutlak tanpa syarat dan ikatan apapun kecuali bagi Allah dan RasulNya saw. Adapun selain itu adalah ketaatan yang terikat di dalam batasan Kitab dan Sunnah.
"Katakanlah : Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul, dan jika kalian berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa ayng dibebankan kepadanya (yaitu menyampaikan risalah). dan kewajiban kalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepada kalian (yaitu melaksanakan ketaatan). Dan jika kalian taat kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas." (An Nuur : 54)
"Seluruh umatku akan masuk jannah kecuali yang enggan." Dikatakan : "Wahai Rasulullah, siapa yang enggan ?" Beliau bersabda : "Barangsiapa mentaatiku dia akan masuk jannah dan barangsiapa mendurhakaiku, maka dia telah enggan." (Riwayat Bukhori di dalam Shahih beliau)
Bahan bacaan :
Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab al-Wushobiy, al-Qoulul Mufid, 2005

Judul Asli : Al-Qoulul Mufid fii Adillatit Tauhiid / Penulis : Asy Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab bin "Ali Al-Yamani Al-Wushobi Al-'Abdali / Penerbit : Maktabatul Irsyad, cetakan ketujuh tahun 1422H - 2001M, Shan'a / Edisi Indonesia : Al-Qoulul Mufid, Penjelasan tentang Tauhid / Penerjemah : Ummu Luqman Salma bintu Ngadino As Salafiyyah / Muroja'ah : Abu Sa'id Hamzah bin Halil As Salafi / Cetakan : Pertama, Agustus 2005 / Penerbit : Darul 'Ilmi, Perum Sukoharjo Indah Blok B-19, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta
Friday, March 23, 2007
PEMBAGIAN TAUHID
Tauhidur Rububiyyah
Tauhidur Rububiyyah yaitu mengesakan Allah di dalam perbuatan-perbuatanNya. Bahwasannya Allah bersendiri dalam penciptaan, perintah, kepemilikan, pengaturan dan Dialah yang mengadakan segala yang ada ini dari tidak ada menjadi ada tanpa adanya sekutu maupun pembantu.
Penetapan bahwa Allah ta'ala adalah Rabb, Penguasa, Pencipta serta Pemberi rizki segala sesuatu. Dan menetapkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan, Yang Memberi manfaat maupun madharat, Yang Maha Esa dalam mengabulkan doa orang yang membutuhkan. BagiNya segala urusan dan di tanganNya-lah segala kebaikan. Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada bagiNya sekutu dalam hal tersebut. Dan keimanan kepada takdir termasuk dalam tauhid ini.
Tauhid al-Uluhiyyah
Tauhid al-Uluhiyyah yaitu mengesakan Allah di dalam perbuatan para hamba.
Dibangun di atas keikhlasan dalam beribadah kepada Allah swt. Dalam hal kecintaan, khouf (takut), roja' (harapan), tawakkal, roghbah (permohonan dengan sungguh-sungguh), rohbah (perasaan cemas), dan doa hanya bagi Allah satu-satunya. Serta memurnikan ibadah-ibadah seluruhnya, baik ibadah yang lahir maupun yang batin hanya bagi Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Serta tidak memberikan segala peribadahan tersebut untuk selainNya, baik kepada malaikat yang dekat dengan Allah swt. ataupun kepada nabi yang diutus, apalagi kepada selain keduanya.
Tauhid Al-Asma' wash Shifat
Tauhid al-asma' wash Shifat yaitu mengesakan Allah dengan nama-nama yang Dia atau rasulNya menamai diriNya dengan nama tersenut atau dengan sifat-sifat yang Dia atau rasulNya menyifati diriNya.
Penetapan bahwasannya Allah Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dialah Dzat Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus makhluk-makhlukNya, Yang Tidak Mengantuk dan Tidak Tidur. BagiNya keehendak yang berlaku serta hikmah yang jelas.
Allah swt. memiliki Asma'ul Husna maupun Sifat-sifat yang Tinggi lainnya. Dan hendaklah kita kokoh beriman kepada hal tersebut tanpa tahrif (penyelewengan makna), ta'thil (pengingkaran), takyif (mempertanyakan tentang keadaannya) atau tamtsil (penyerupaan)
Sumber bacaan :
Asy-Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad, Mengapa Tauhid Dibagi Menjadi Tiga, 2006
Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab al-Wushobiy, al-Qoulul Mufid, 2005
Tauhidur Rububiyyah yaitu mengesakan Allah di dalam perbuatan-perbuatanNya. Bahwasannya Allah bersendiri dalam penciptaan, perintah, kepemilikan, pengaturan dan Dialah yang mengadakan segala yang ada ini dari tidak ada menjadi ada tanpa adanya sekutu maupun pembantu.
Penetapan bahwa Allah ta'ala adalah Rabb, Penguasa, Pencipta serta Pemberi rizki segala sesuatu. Dan menetapkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan, Yang Memberi manfaat maupun madharat, Yang Maha Esa dalam mengabulkan doa orang yang membutuhkan. BagiNya segala urusan dan di tanganNya-lah segala kebaikan. Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada bagiNya sekutu dalam hal tersebut. Dan keimanan kepada takdir termasuk dalam tauhid ini.
"Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam" (al-Fatihah:2, al-An'am:45, Yunus:10, ash-Shofat:182, az-Zumar:75, Ghofir:65)
"Ingatlah, bahwa menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam" (al-A'raf:54)
"Siapakan Rabb langit dan bumi? Jawablah : Allah" (ar-Rad:16)
Tauhid al-Uluhiyyah
Tauhid al-Uluhiyyah yaitu mengesakan Allah di dalam perbuatan para hamba.
Dibangun di atas keikhlasan dalam beribadah kepada Allah swt. Dalam hal kecintaan, khouf (takut), roja' (harapan), tawakkal, roghbah (permohonan dengan sungguh-sungguh), rohbah (perasaan cemas), dan doa hanya bagi Allah satu-satunya. Serta memurnikan ibadah-ibadah seluruhnya, baik ibadah yang lahir maupun yang batin hanya bagi Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Serta tidak memberikan segala peribadahan tersebut untuk selainNya, baik kepada malaikat yang dekat dengan Allah swt. ataupun kepada nabi yang diutus, apalagi kepada selain keduanya.
"Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam" (al-Fatihah:2, al-An'am:45, Yunus:10, ash-Shofat:182, az-Zumar:75, Ghofir:65)
Makna Allah adalah al-Ma'luh (Yang Disembah) dan al-Ma'bud (Yang Diibadahi)
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan" (al-Fatihah:5)
"Hai manusia, sembahlah Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa" (al-Baqarah:21)
Tauhid Al-Asma' wash Shifat
Tauhid al-asma' wash Shifat yaitu mengesakan Allah dengan nama-nama yang Dia atau rasulNya menamai diriNya dengan nama tersenut atau dengan sifat-sifat yang Dia atau rasulNya menyifati diriNya.
Penetapan bahwasannya Allah Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dialah Dzat Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus makhluk-makhlukNya, Yang Tidak Mengantuk dan Tidak Tidur. BagiNya keehendak yang berlaku serta hikmah yang jelas.
Allah swt. memiliki Asma'ul Husna maupun Sifat-sifat yang Tinggi lainnya. Dan hendaklah kita kokoh beriman kepada hal tersebut tanpa tahrif (penyelewengan makna), ta'thil (pengingkaran), takyif (mempertanyakan tentang keadaannya) atau tamtsil (penyerupaan)
"Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan" (al-Fatihah:3-4)
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) (al-Isro:110)
"Dialah Allah, tidak ada Sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al-asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) (Thoha:8)
Sumber bacaan :
Asy-Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad, Mengapa Tauhid Dibagi Menjadi Tiga, 2006
Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab al-Wushobiy, al-Qoulul Mufid, 2005
Saturday, February 17, 2007
MENGAPA TAUHID ?
Thema utama Rubrik Salimasite adalah Tauhid. Walaupun tetap akan hadir artikel dengan thema yang lain, namun tetap berkaitan dengan tauhid. Lalu mungkin muncul pertanyaan, apa itu tauhid dan mengapa menjadi tema utama ?
Tauhid secara bahasa adalah : mashdar (kata benda abstrak) dari wahhada yuwahhidu yaitu menjadikan sesuatu menjadi satu.
Tauhid secara syariat adalah : mengesakan Allah swt. di dalam rububiyyah, uluhiyyah, nama dan sifat serta hukumNya.
Ada beberapa alasan mengapa saya mengutamakan tema ini, antara lain :
Manhaj Allah swt
Inilah manhaj/jalan Allah swt, seluruh nabi dan orang-orang yang beriman. Lebih khusus lagi tauhid uluhiyyah yang merupakan puncak awal dan akhir dari agama, baik secara batin maupun lahirnya, dan merupakan awal serta akhir dari dakwah para Rasul. Karena tauhid inilah para makhluk diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab suci diturunkan.
Ibadah adalah : Suatu nama yang mencakup setiap yang dicintai dan diridhoi Allah swt. dalam bentuk ucapan dan amalan, yang lahir dan yang batin.
Syirik adalah : Menyamakan makhluk dengan Allah pada perkara yang merupakan kekhususan bagi Allah.
Dakwah Para Nabi dan Rosul
Benang merah dari dakwah seluruh nabi dan rasul adalah tauhid.
Toghut adalah segala yang diibadahi selain Allah.
Jauhilah toghut adalah jauhilah peribadahan kepada berhala-berhala dan jauhilah perbuatan syirik kepada Allah swt.
Telah banyak kisah yang sampai kepada kita bagaimana Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang -orang kafir.
Jalan Menuju Keselamatan
Tidak diragukan lagi semua orang pasti mengharapkan keselamatan, ketentraman dan kebahagiaan. Tidak ada jalan menuju keselamatan yang hakiki dan kebahagiaan yang abadi kecuali dengan tauhid yang benar.
Ittiba' (mencontoh) Rosulullah saw.
Sebagian ulama memasukkan ketaatan kepada Rasulullah ke dalam tauhid dan disebut dengan tauhid mutaba'ah. Yaitu kita menjadikan Rasulullah saw. satu-satunya panutan, maka kita tidak mengikuti kecuali beliau dengan sebenar-benarnya.
Merupakan perkara yang wajib adalah kesempurnaan ketundukan kepada Rasulullah, patuh terhadap perintahnya dan menyambut beritanya dengan penerimaan dan pembenaran, tanpa menentangnya dengan khayalan bathil yang kita sebut ma'quul (sesuatu yang dianggap masuk akal) atau kita interpretasikan sebagai syubhat atau keraguan, atau kita lebih mendahulukan pendapat orang-orang serta sampah pikiran mereka daripada berita Beliau.
Inilah beberapa alasan yang dapat saya kemukakan. Semoga bermanfaat bagi saya sendiri dan pembaca pada umumnya.
Tauhid secara bahasa adalah : mashdar (kata benda abstrak) dari wahhada yuwahhidu yaitu menjadikan sesuatu menjadi satu.
Tauhid secara syariat adalah : mengesakan Allah swt. di dalam rububiyyah, uluhiyyah, nama dan sifat serta hukumNya.
Ada beberapa alasan mengapa saya mengutamakan tema ini, antara lain :
Manhaj Allah swt
Inilah manhaj/jalan Allah swt, seluruh nabi dan orang-orang yang beriman. Lebih khusus lagi tauhid uluhiyyah yang merupakan puncak awal dan akhir dari agama, baik secara batin maupun lahirnya, dan merupakan awal serta akhir dari dakwah para Rasul. Karena tauhid inilah para makhluk diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab suci diturunkan.
Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyat : 56)
Wahai manusia ibadahilah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.
(Al-Baqarah : 21)
Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah dan jangan berbuat syirik kepada-Nya. (An-Nisaa' : 36)
Ibadah adalah : Suatu nama yang mencakup setiap yang dicintai dan diridhoi Allah swt. dalam bentuk ucapan dan amalan, yang lahir dan yang batin.
Syirik adalah : Menyamakan makhluk dengan Allah pada perkara yang merupakan kekhususan bagi Allah.
Dakwah Para Nabi dan Rosul
Benang merah dari dakwah seluruh nabi dan rasul adalah tauhid.
Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rosul (agar menyerukan) beribadahlah kepada Allah dan jauhilah toghut.
(An-Nahl : 36)
Toghut adalah segala yang diibadahi selain Allah.
Jauhilah toghut adalah jauhilah peribadahan kepada berhala-berhala dan jauhilah perbuatan syirik kepada Allah swt.
Dan tidaklah Kami utus seorang rosulpun sebelum engkau, melainkan kami wahyukan kepadanya bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Aku. Maka ibadahilah Aku. (Al-Anbiya' : 25)
Telah banyak kisah yang sampai kepada kita bagaimana Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang -orang kafir.
Jalan Menuju Keselamatan
Tidak diragukan lagi semua orang pasti mengharapkan keselamatan, ketentraman dan kebahagiaan. Tidak ada jalan menuju keselamatan yang hakiki dan kebahagiaan yang abadi kecuali dengan tauhid yang benar.
Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kedholiman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itu adalah orang-orang yang menepati jalan hidayah. (Al-An'am : 82)
Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan 'La ilaha illallah (tiada sesembahan yang benar selain Allah) dengan mengharapkan (melihat) wajah Allah (dengan meninggalkan syirik bukan hanya ucapan dengan lisan saja).
(HR Bukhori dan Muslim)
Ittiba' (mencontoh) Rosulullah saw.
Sebagian ulama memasukkan ketaatan kepada Rasulullah ke dalam tauhid dan disebut dengan tauhid mutaba'ah. Yaitu kita menjadikan Rasulullah saw. satu-satunya panutan, maka kita tidak mengikuti kecuali beliau dengan sebenar-benarnya.
Katakanlah : 'Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'
(Ali Imron : 31)
Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.
(Al-Hasyr : 7)
Merupakan perkara yang wajib adalah kesempurnaan ketundukan kepada Rasulullah, patuh terhadap perintahnya dan menyambut beritanya dengan penerimaan dan pembenaran, tanpa menentangnya dengan khayalan bathil yang kita sebut ma'quul (sesuatu yang dianggap masuk akal) atau kita interpretasikan sebagai syubhat atau keraguan, atau kita lebih mendahulukan pendapat orang-orang serta sampah pikiran mereka daripada berita Beliau.
Inilah beberapa alasan yang dapat saya kemukakan. Semoga bermanfaat bagi saya sendiri dan pembaca pada umumnya.
Monday, January 8, 2007
Khalid bin Walid ( 2 )
Pada tulisan yang lalu telah kita ikuti kiprah Khalid bin Walid saat memimpin pasukan berkuda kaum musyrikin. Pada edisi kali ini akab kita ikuti kiprahnya setelah masuk Islam.
Setelah Perjanjian Hudaibiyyah, yang merupakan perjanjian damai antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir Quraisy, kaum Muslimin untuk sesaat mendapatkan masa tenang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Rosululloh saw untuk mengirimkan da'i dan surat ke berbagai negeri mengajak mereka untuk masuk Islam.
Di antara utusan itu terdapatlah Al-Harits bin 'Amir Al-Azdy ra. Beliau diutus untuk menyampaikan surat kepada Penguasa Negeri Bashra. Namun ketika sampai di daerah Mu'tah (masuk wilayah Al-Balqa', negeri di selatan Yordan) tiba-tiba beliau dihadang oleh Syarahbil bin 'Amr Al-Ghossany. Dipenggallah leher Al-Harits. Hal ini bisa diartikan sebagai pernyataan perang.
Ketika berita ini sampai kepada Rosululloh saw, sangat marahlah beliau saw, lalu menyiapkan pasukan yang terdiri atas 3.000 personil dan memerintahkan Zaid bin Haritsah untuk memimpinnya. Beliau saw lalu berkata :
"Jika Zaid terbunuh, maka Ja'far bin Abi Tholib sebagai penggantinya. Jika Ja'far terbunuh, maka 'Abdulloh bin Rowahan sebagai penggantinya."
Peristiwa ini terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun ketujuh Hijriyyah.
Nabi saw mengantar pasukan hingga Tsaniyyatul-Wada', lalumelepasnya. Pasukan bergerak sampai di daerah Ma'an - yakni di sebelah selatan Negeri Yordan-. Selanjutnya sampailah berita bahwa Raja Heraklius telah tiba di daerah Ma'ab bersama 100.000 pasukan romawi dan ditambah lagi dengan pasukan bantuan dari kalangan "Arab (di sekitar Negeri Syam) sejumlah 100.000 orang, sehingga total 200.000 orang pasukan.
Maka pasukan muslimin bermusyawarah selama dua malam, apakah perlu untuk menuliskan situasi tersebut kepada Rosululloh saw dan meminta tambahan pasukan atau mereka terus maju ke medan pertempuran?
Namun Ibnu Rowahah kemudian membangkitkan keberanian mereka :
"Sesungguhnya apa yang kalian takutkan (yakni mati syahid) adalah apa yang sebenarnya kalian cari dalam kepergian kalian berperang. Dan kita tidaklah berperang karena jumlah, kekuatan dan bilangan pasukan yang banyak. Hanyalah kita berperang karena agama ini yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Dan tidaklah hal itu melainkan salah satu dari dua kebaikan, yakni apakah kemenangan ataukan mati syahid."
Mereka berkata, "Benar demi Allah, Ibnu Rowahah ini."
Maka mereka bergerak maju mendatangi wilayah Mu'tah dan kemudian berlangsunglah satu peperangan sengit. Dengan perbedaan jumlah pasukan yang sangat besar tenyata pasukan gabungan Romawi tidak juga berhasil mengalahkan pasukan kaum Muslimin. Bendera kaum Muslimin dipegang oleh Zaid bin Haritsah yang terus berperang dan berperang hingga tertembus tombak musuh. Ia tersungkur jatuh dalam keadaan gugur sebagai syahid di jalan Allah.
Selanjutnya bendera dipegang oleh Ja'far bin Abi Tholib. Lalu ia berperang dan berperang. Hingga ketika peperangan berlangsung seru, iapun turun dari kudanyaAsy-Syaqro' lalu menyembelihnya. Kemudia ia kembali berperang hingga tertebas tangan kanannya. Lalu ia pegang bendera itu dengan tangan kirinya. Sehingga ia tetap bisa menegakkan bendera itu sampai akhirnya tertebas pula tangan kirinya itu. Maka ia mendekap bendera itu dengan kedua lengannya yang tersisa, sehingga bendera itu tetap berkibar di udara sampai ia gugur setelah mengalami lebih dari 70 luka karena tikaman dan tusukan yang seluruh lukanya itu terletak di sisi depan dari jasadnya.
'Abdulloh bin Rowahah mengambil alih bendera sebagai pemimpin pasukan dan bergerak maju. Iapun turun dari kudanya yakni Al-Ma'ma'ah. kemudian terus berperang hingga terbunuh sebagai syahid. Agar tidak tumbang bendera itu ditangkap oleh Tsabit bin Arqom lalu berteriak kepada kaum muslimin,"Pilihlah kalian seorang pemimpin!" Maka mereka memilih Khalid bin Walid dan dengan itu berpindahlah bendera itu kepadanya. Ia lalu berperang hingga mematahkan sembilan pedang musuh.
Sementara itu di Madinah, Rasululloh saw mengabarkan kepada para shahabatnya pada hari itu juga tentang gugurnya ketiga pimpinan pasukan kaum muslimin dan berpindahnya kepemimpinan kepada Khalid bin Walid. Beliau saw lalu menamainya Saifulloh (Pedang Allah).
Esok harinya Khalid mengatur strategi dengan mengubah struktur pasukan. Ia ubah pasukan yang berada di bagian belakang menjadi pasukan garis depan dan yang di depan menjadi bagian belakang. Pasukan yang berada di sisi kiri diubah menjadi di sisi kanan dan sebaliknya yang di kanan menjadi di sisi kiri. Maka musuh akan menyangka bahwa pasukan tambahan telah datang kepada kaum muslimin, sehingga perasaan takutpun menyelimuti mereka. Kemudian setelah terjadi pertempuran beberapa saat, Khalid memerintahkan pasukan kaum muslimin untuk bergerak mundur. Namun musuh tidak memiliki keberanian untuk mengejar karena khawatir terjebak siasat perang.
Kemudian pasukan kaum muslimin kembali ke Mu'tah dan tinggal di sana selama 7 hari memerangi musuh. Lalu kedua kubu saling menahan diri dan berakhirlah peperangan. Karena pasukan Romawi mengira bahwa pasukan bantuan terus menerus berdatangan kepada kaum muslimin. Selain itu kaum muslimin dianggap tengah bersiasat perang dengan memasang jebakan terhadap mereka untuk menggiring mereka ke dalam sebuah medan yang tidak memungkinkan mereka untuk lolos. Sehingga pihak Muslimin unggul dalam peperangan itu.
Sekarang mungkin kita menganggap sederhana strategi yang digelar oleh Khalid bin Walid. Tetapi pada masa itu, limabelas abad yang lalu, ini adalah strategi yang brilian. Apalagi dengan perimbangan pasukan yang sangat timpang, 3.000 pasukan Muslimin melawan 200.000 pasukan gabungan Romawi. Sejarah mencatat pasukan Romawi gagal menundukkan pasukan Muslimin.
Inilah peperangan pertama antara pasukan Muslimin melawan pasukan Romawi. Setelah ini terjadi lagi beberapa peperangan di antara keduanya. Di antaranya adalah pasukan di bawah komando Usamah bin Zaid yang dikirim menjelang wafatnya Rosululloh pada bulan Shafar tahun 11 Hijriyah. Rosululloh saw memanggil Usama dan berkata :
"Bergegaslah kamu menuju tempat terbunuhnya bapakmu, paculah kudamu ke tempat tersebut, aku serahkan pasukan kepadamu."
Dalam kurun waktu empat puluh hari perjalanan pulang pergi akhirnya mereka mendapatkan kemenangan yang gemilang. Pada saat itu usia Usamah belum genap 20 tahun.
Sumber :
Asy-Syaikh Shofiyyur-Rohman al-Mubarokfury, "Siroh Nabawiyah", 2006
Dr. Fadhl Ilahi, "Kisah kepahlawanan Para Shohabat Saat Wafatnya Rosululloh saw", 2006

Judul Asli :
Raudhoh Al-Anwar fi Sirah An-Nabiy Al-Mukhtar saw.
Penulis :
Asy-Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury
Penerbit :
Maktabah Dar Al-Fiha'
Edisi Indonesia :
Sirah Nabawiyyah
Taman Cahaya di Atas Cahaya Perjalanan Hidup Rasulullah saw.
Penerjemah :
Abu 'Abdir-Rahman Muhammad Daz bin Munir
Muraja'ah dan Ta'lid :
Abu Abdillah Afifuddin As-Sidawy
Editor :
Anang Fawzi, Ahmad Royyan
Cover dan Layout :
Ahmad Royyan
Cetakan Pertama :
Maret 2006
Penerbit :
Ash-Shaf Media, Tegal

Judul Asli :
Qishoh Ba'tsi Abi Bakr Jaisy Usamah ra.
Penulis :
Dr. Fadl Ilahi
Penerbit :
Muassasah Juraisy, Riyadh, Jeddah
Judul Indonesia :
Kisah Kepahlawanan Pasa Sahabat ra. saat wafatnya Rasulullah saw
Penerjemah :
Al-Ustadz Abu Affan Asasuddin
Editor :
Abu Ismail Muhammad Fathoni
Desain Kover :
Ahmad Royyan
Tata Letak :
Mitra Grafika Klaten
Cetakan Pertama :
Jumadil Ula 1427 H/Mei 2006
Penerbit :
Media Ahlus Sunnah, Purwokerto
Setelah Perjanjian Hudaibiyyah, yang merupakan perjanjian damai antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir Quraisy, kaum Muslimin untuk sesaat mendapatkan masa tenang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Rosululloh saw untuk mengirimkan da'i dan surat ke berbagai negeri mengajak mereka untuk masuk Islam.
Di antara utusan itu terdapatlah Al-Harits bin 'Amir Al-Azdy ra. Beliau diutus untuk menyampaikan surat kepada Penguasa Negeri Bashra. Namun ketika sampai di daerah Mu'tah (masuk wilayah Al-Balqa', negeri di selatan Yordan) tiba-tiba beliau dihadang oleh Syarahbil bin 'Amr Al-Ghossany. Dipenggallah leher Al-Harits. Hal ini bisa diartikan sebagai pernyataan perang.
Ketika berita ini sampai kepada Rosululloh saw, sangat marahlah beliau saw, lalu menyiapkan pasukan yang terdiri atas 3.000 personil dan memerintahkan Zaid bin Haritsah untuk memimpinnya. Beliau saw lalu berkata :
"Jika Zaid terbunuh, maka Ja'far bin Abi Tholib sebagai penggantinya. Jika Ja'far terbunuh, maka 'Abdulloh bin Rowahan sebagai penggantinya."
Peristiwa ini terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun ketujuh Hijriyyah.
Nabi saw mengantar pasukan hingga Tsaniyyatul-Wada', lalumelepasnya. Pasukan bergerak sampai di daerah Ma'an - yakni di sebelah selatan Negeri Yordan-. Selanjutnya sampailah berita bahwa Raja Heraklius telah tiba di daerah Ma'ab bersama 100.000 pasukan romawi dan ditambah lagi dengan pasukan bantuan dari kalangan "Arab (di sekitar Negeri Syam) sejumlah 100.000 orang, sehingga total 200.000 orang pasukan.
Maka pasukan muslimin bermusyawarah selama dua malam, apakah perlu untuk menuliskan situasi tersebut kepada Rosululloh saw dan meminta tambahan pasukan atau mereka terus maju ke medan pertempuran?
Namun Ibnu Rowahah kemudian membangkitkan keberanian mereka :
"Sesungguhnya apa yang kalian takutkan (yakni mati syahid) adalah apa yang sebenarnya kalian cari dalam kepergian kalian berperang. Dan kita tidaklah berperang karena jumlah, kekuatan dan bilangan pasukan yang banyak. Hanyalah kita berperang karena agama ini yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Dan tidaklah hal itu melainkan salah satu dari dua kebaikan, yakni apakah kemenangan ataukan mati syahid."
Mereka berkata, "Benar demi Allah, Ibnu Rowahah ini."
Maka mereka bergerak maju mendatangi wilayah Mu'tah dan kemudian berlangsunglah satu peperangan sengit. Dengan perbedaan jumlah pasukan yang sangat besar tenyata pasukan gabungan Romawi tidak juga berhasil mengalahkan pasukan kaum Muslimin. Bendera kaum Muslimin dipegang oleh Zaid bin Haritsah yang terus berperang dan berperang hingga tertembus tombak musuh. Ia tersungkur jatuh dalam keadaan gugur sebagai syahid di jalan Allah.
Selanjutnya bendera dipegang oleh Ja'far bin Abi Tholib. Lalu ia berperang dan berperang. Hingga ketika peperangan berlangsung seru, iapun turun dari kudanyaAsy-Syaqro' lalu menyembelihnya. Kemudia ia kembali berperang hingga tertebas tangan kanannya. Lalu ia pegang bendera itu dengan tangan kirinya. Sehingga ia tetap bisa menegakkan bendera itu sampai akhirnya tertebas pula tangan kirinya itu. Maka ia mendekap bendera itu dengan kedua lengannya yang tersisa, sehingga bendera itu tetap berkibar di udara sampai ia gugur setelah mengalami lebih dari 70 luka karena tikaman dan tusukan yang seluruh lukanya itu terletak di sisi depan dari jasadnya.
'Abdulloh bin Rowahah mengambil alih bendera sebagai pemimpin pasukan dan bergerak maju. Iapun turun dari kudanya yakni Al-Ma'ma'ah. kemudian terus berperang hingga terbunuh sebagai syahid. Agar tidak tumbang bendera itu ditangkap oleh Tsabit bin Arqom lalu berteriak kepada kaum muslimin,"Pilihlah kalian seorang pemimpin!" Maka mereka memilih Khalid bin Walid dan dengan itu berpindahlah bendera itu kepadanya. Ia lalu berperang hingga mematahkan sembilan pedang musuh.
Sementara itu di Madinah, Rasululloh saw mengabarkan kepada para shahabatnya pada hari itu juga tentang gugurnya ketiga pimpinan pasukan kaum muslimin dan berpindahnya kepemimpinan kepada Khalid bin Walid. Beliau saw lalu menamainya Saifulloh (Pedang Allah).
Esok harinya Khalid mengatur strategi dengan mengubah struktur pasukan. Ia ubah pasukan yang berada di bagian belakang menjadi pasukan garis depan dan yang di depan menjadi bagian belakang. Pasukan yang berada di sisi kiri diubah menjadi di sisi kanan dan sebaliknya yang di kanan menjadi di sisi kiri. Maka musuh akan menyangka bahwa pasukan tambahan telah datang kepada kaum muslimin, sehingga perasaan takutpun menyelimuti mereka. Kemudian setelah terjadi pertempuran beberapa saat, Khalid memerintahkan pasukan kaum muslimin untuk bergerak mundur. Namun musuh tidak memiliki keberanian untuk mengejar karena khawatir terjebak siasat perang.
Kemudian pasukan kaum muslimin kembali ke Mu'tah dan tinggal di sana selama 7 hari memerangi musuh. Lalu kedua kubu saling menahan diri dan berakhirlah peperangan. Karena pasukan Romawi mengira bahwa pasukan bantuan terus menerus berdatangan kepada kaum muslimin. Selain itu kaum muslimin dianggap tengah bersiasat perang dengan memasang jebakan terhadap mereka untuk menggiring mereka ke dalam sebuah medan yang tidak memungkinkan mereka untuk lolos. Sehingga pihak Muslimin unggul dalam peperangan itu.
Sekarang mungkin kita menganggap sederhana strategi yang digelar oleh Khalid bin Walid. Tetapi pada masa itu, limabelas abad yang lalu, ini adalah strategi yang brilian. Apalagi dengan perimbangan pasukan yang sangat timpang, 3.000 pasukan Muslimin melawan 200.000 pasukan gabungan Romawi. Sejarah mencatat pasukan Romawi gagal menundukkan pasukan Muslimin.
Inilah peperangan pertama antara pasukan Muslimin melawan pasukan Romawi. Setelah ini terjadi lagi beberapa peperangan di antara keduanya. Di antaranya adalah pasukan di bawah komando Usamah bin Zaid yang dikirim menjelang wafatnya Rosululloh pada bulan Shafar tahun 11 Hijriyah. Rosululloh saw memanggil Usama dan berkata :
"Bergegaslah kamu menuju tempat terbunuhnya bapakmu, paculah kudamu ke tempat tersebut, aku serahkan pasukan kepadamu."
Dalam kurun waktu empat puluh hari perjalanan pulang pergi akhirnya mereka mendapatkan kemenangan yang gemilang. Pada saat itu usia Usamah belum genap 20 tahun.
Sumber :
Asy-Syaikh Shofiyyur-Rohman al-Mubarokfury, "Siroh Nabawiyah", 2006
Dr. Fadhl Ilahi, "Kisah kepahlawanan Para Shohabat Saat Wafatnya Rosululloh saw", 2006

Judul Asli :
Raudhoh Al-Anwar fi Sirah An-Nabiy Al-Mukhtar saw.
Penulis :
Asy-Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury
Penerbit :
Maktabah Dar Al-Fiha'
Edisi Indonesia :
Sirah Nabawiyyah
Taman Cahaya di Atas Cahaya Perjalanan Hidup Rasulullah saw.
Penerjemah :
Abu 'Abdir-Rahman Muhammad Daz bin Munir
Muraja'ah dan Ta'lid :
Abu Abdillah Afifuddin As-Sidawy
Editor :
Anang Fawzi, Ahmad Royyan
Cover dan Layout :
Ahmad Royyan
Cetakan Pertama :
Maret 2006
Penerbit :
Ash-Shaf Media, Tegal

Judul Asli :
Qishoh Ba'tsi Abi Bakr Jaisy Usamah ra.
Penulis :
Dr. Fadl Ilahi
Penerbit :
Muassasah Juraisy, Riyadh, Jeddah
Judul Indonesia :
Kisah Kepahlawanan Pasa Sahabat ra. saat wafatnya Rasulullah saw
Penerjemah :
Al-Ustadz Abu Affan Asasuddin
Editor :
Abu Ismail Muhammad Fathoni
Desain Kover :
Ahmad Royyan
Tata Letak :
Mitra Grafika Klaten
Cetakan Pertama :
Jumadil Ula 1427 H/Mei 2006
Penerbit :
Media Ahlus Sunnah, Purwokerto
Monday, December 4, 2006
Khalid bin Walid
KHALID bin WALID adalah seorang komandan perang dan ahli strategi. Paling tidak ada dua perang besar yang menunjukkan keahliannya dalam menyusun dan membaca strategi perang. Kedua perang itu adalah Perang Uhud dan Perang Mu'tah. Uniknya dia berada di sisi yang berbeda di dua perang tersebut. Pada Perang Uhud dia memimpin pasukan berkuda kaum musyrikin. Sedangkan pada perang Mu'tah dia menjadi komandan perang pasukan muslimin. Berikut ini kisahnya.
PERANG UHUD terjadi pada Bulan Syawwal tahun 3 Hijriyah di sekitar Dataran Tinggi Uhud. Kaum musyrikin bermaksud menjadikan perang ini sebagai pembalasan atas kekalahan mereka dalam Perang Badr. Kaum muslimin berkekuatan 700 personil sedang kaum musyrikin membawa 3000 personil.
Di pihak kaum muslimin Rosululloh saw telah menempatkan 50 orang pemanah di Bukit Ainain (yang selanjutnya dikenal dengan nama Jabal Rumah - bukit para pemanah). Pasukan ini dipimpin oleh 'Abdulloh bin Jubair Al-Anshory. Rosululloh saw memerintahkan mereka untuk menghalangi kuda-kuda musuh dan melindungi punggung pasukan kaum muslimin. Beliau saw tegaskan kepada mereka untuk tidak meninggalkan tempat mereka hingga datang perintah dari beliau saw, baik kaum muslimin dalam keadaan menang maupun kalah.
Di pihak kaum musyrikin Khalid bin Walid memimpin pasukan berkuda. Sehingga pasukannya berhadapan langsung dengan pasukan pemanah kaum muslimin yang dipimpin oleh 'Abdulloh. Di sinilah tampak keahlian Khalid bin Walid dalam membaca strategi perang yang digelar oleh Rosululloh saw. Dia memusatkan perhatiannya kepada pasukan pemanah pasukan muslimin. Karena pasukan pemanah ini merupakan penyangga bagi pasukan kaum muslimin secara keseluruhan. Tiga kali dia berusaha mencapai posisi belakang kaum kuslimin. Namun pasukan pemanah menghujaninya dengan anak panah sehingga pasukan berkuda kaum musyrikin itu bisa dipukul mundur.
Pada titik yang lain pasukan muslimin juga berhasil memukul mundur pasukan musyrikin hingga tercerai-berai. Kaum muslimin mengejar mereka sambil memunguti harta rampasan perang. Pada saat itu terjadi kesalahan pada pihak pasukan panah. Dari mereka telah turun 40 orang untuk ikut mengumpulkan harta rampasan perang yang berarti telah melanggar perintah Rosululloh saw untuk tetap pada posisi mereka di atas bukit.
Khalid bin Walid tidak membuang kesempatan ini. Dia lalu menyerang 10 orang pasukan pemanah yang tersisa dan membunuh mereka semua. Dia lalu mengitari bukit hingga berhasil mencapai posisi belakang kaum muslimin. Pasukan musyrikin yang semula melarikan diri pun berbalik setelah mengetahui keberadaan Khalid bin Walid di belakang pasukan muslimin . Dengan demikian pasukan muslimin menjadi terjepit.
Mush'ab bin 'Umair, pembawa bendera kaum muslimin, dibunuh oleh 'Abdulloh bin Qimah. Mush'ab mirip dengan Rosululloh saw sehingga Ibnu Qimah menyangka telah membunuh Beliau saw. Ibnu Qimah lalu berteriak,"Muhammad benar-benar telah terbunuh !" Tersebarlah berita ini dengan cepat sehingga serangan kaum musyrikin menjadi kendor. Mereka menyangka target mereka telah tercapai.
Sementara itu Rosululloh saw dan beberapa shohabat menerobos kepungan kaum musyrikin dan menuju lereng bukit. Sejumlah pasukan musyrikin dipimpin oleh Abu Sufyan dan Khalid bin Walid mengejar naik ke sisi bukit. Mereka diserang oleh 'Umar bin al-Khoththob dan beberapa orang Muhajirin hingga mereka terguling dari bukit. Ini adalah upaya terakhir kaum musyrikin. Setelah itu mereka mundur dan bersiap kembali ke Makkah.
Dan perang Uhud berakhir. Manuver yang dilakukan oleh Khalid bin Walid bersama pasukan berkuda yang dipimpinnya telah membalik keadaan dan mengubah hasil akhir.
Inilah kiprah Khalid bin Walid saat masih musyrik. Pada edisi mendatang kita akan ikuti kiprahnya setelah menyatakan keislamannya. Bagaimana dia menggelar strategi dalam Perang Mu'tah melawan Pasukan Gabungan Romawi yang jumlahnya berlipat. Insya Allah.
Sumber :
PERANG UHUD terjadi pada Bulan Syawwal tahun 3 Hijriyah di sekitar Dataran Tinggi Uhud. Kaum musyrikin bermaksud menjadikan perang ini sebagai pembalasan atas kekalahan mereka dalam Perang Badr. Kaum muslimin berkekuatan 700 personil sedang kaum musyrikin membawa 3000 personil.
Di pihak kaum muslimin Rosululloh saw telah menempatkan 50 orang pemanah di Bukit Ainain (yang selanjutnya dikenal dengan nama Jabal Rumah - bukit para pemanah). Pasukan ini dipimpin oleh 'Abdulloh bin Jubair Al-Anshory. Rosululloh saw memerintahkan mereka untuk menghalangi kuda-kuda musuh dan melindungi punggung pasukan kaum muslimin. Beliau saw tegaskan kepada mereka untuk tidak meninggalkan tempat mereka hingga datang perintah dari beliau saw, baik kaum muslimin dalam keadaan menang maupun kalah.
Di pihak kaum musyrikin Khalid bin Walid memimpin pasukan berkuda. Sehingga pasukannya berhadapan langsung dengan pasukan pemanah kaum muslimin yang dipimpin oleh 'Abdulloh. Di sinilah tampak keahlian Khalid bin Walid dalam membaca strategi perang yang digelar oleh Rosululloh saw. Dia memusatkan perhatiannya kepada pasukan pemanah pasukan muslimin. Karena pasukan pemanah ini merupakan penyangga bagi pasukan kaum muslimin secara keseluruhan. Tiga kali dia berusaha mencapai posisi belakang kaum kuslimin. Namun pasukan pemanah menghujaninya dengan anak panah sehingga pasukan berkuda kaum musyrikin itu bisa dipukul mundur.
Pada titik yang lain pasukan muslimin juga berhasil memukul mundur pasukan musyrikin hingga tercerai-berai. Kaum muslimin mengejar mereka sambil memunguti harta rampasan perang. Pada saat itu terjadi kesalahan pada pihak pasukan panah. Dari mereka telah turun 40 orang untuk ikut mengumpulkan harta rampasan perang yang berarti telah melanggar perintah Rosululloh saw untuk tetap pada posisi mereka di atas bukit.
Khalid bin Walid tidak membuang kesempatan ini. Dia lalu menyerang 10 orang pasukan pemanah yang tersisa dan membunuh mereka semua. Dia lalu mengitari bukit hingga berhasil mencapai posisi belakang kaum muslimin. Pasukan musyrikin yang semula melarikan diri pun berbalik setelah mengetahui keberadaan Khalid bin Walid di belakang pasukan muslimin . Dengan demikian pasukan muslimin menjadi terjepit.
Mush'ab bin 'Umair, pembawa bendera kaum muslimin, dibunuh oleh 'Abdulloh bin Qimah. Mush'ab mirip dengan Rosululloh saw sehingga Ibnu Qimah menyangka telah membunuh Beliau saw. Ibnu Qimah lalu berteriak,"Muhammad benar-benar telah terbunuh !" Tersebarlah berita ini dengan cepat sehingga serangan kaum musyrikin menjadi kendor. Mereka menyangka target mereka telah tercapai.
Sementara itu Rosululloh saw dan beberapa shohabat menerobos kepungan kaum musyrikin dan menuju lereng bukit. Sejumlah pasukan musyrikin dipimpin oleh Abu Sufyan dan Khalid bin Walid mengejar naik ke sisi bukit. Mereka diserang oleh 'Umar bin al-Khoththob dan beberapa orang Muhajirin hingga mereka terguling dari bukit. Ini adalah upaya terakhir kaum musyrikin. Setelah itu mereka mundur dan bersiap kembali ke Makkah.
Dan perang Uhud berakhir. Manuver yang dilakukan oleh Khalid bin Walid bersama pasukan berkuda yang dipimpinnya telah membalik keadaan dan mengubah hasil akhir.
Inilah kiprah Khalid bin Walid saat masih musyrik. Pada edisi mendatang kita akan ikuti kiprahnya setelah menyatakan keislamannya. Bagaimana dia menggelar strategi dalam Perang Mu'tah melawan Pasukan Gabungan Romawi yang jumlahnya berlipat. Insya Allah.
Sumber :
- Asy-Syaikh Shofiyyur-Rohman al-Mubarokfury, "Siroh Nabawiyah", 2006
Saturday, December 2, 2006
T a u h i d
Tauhid, tauhid, tauhid. Hanya itu yang ingin saya bicarakan di sini. Karena inilah masalah yang paling mendasar. Benang merah ajaran seluruh nabi dan rosul.
Tentu saja agar tidak jenuh ada beberapa cerita tentang Rosulalloh saw dan sahabat-sahabatnya. Tetang perang, kesetiaan, pengorbanan, dan tentu saja tentang CINTA.
Tentu saja agar tidak jenuh ada beberapa cerita tentang Rosulalloh saw dan sahabat-sahabatnya. Tetang perang, kesetiaan, pengorbanan, dan tentu saja tentang CINTA.
Subscribe to:
Posts (Atom)